GOOGLE Dibeli Perdana Menteri Netanyahu

GOOGLE Dibeli Perdana Menteri Netanyahu.
“GOOGLE Dibeli Perdana Menteri Netanyahu. Di tengah krisis berkepanjangan di Gaza, dunia dikejutkan oleh laporan bahwa Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, telah mengeluarkan dana fantastis—sekitar Rp 740 miliar—untuk membayar Google. Tujuan dari langkah ini bukan sekadar promosi, melainkan untuk menyangkal isu kelaparan yang menimpa warga Gaza.”
Perang Bukan Hanya Soal Senjata
Perang modern tidak lagi hanya terjadi di medan tempur dengan senjata dan pasukan. Saat ini, perang juga berlangsung di ranah informasi. Kontrol atas narasi publik, terutama di dunia maya, menjadi kunci dalam menentukan siapa yang “menang” dalam opini internasional.
Israel, melalui Netanyahu, tampaknya menyadari hal ini. Dengan menggandeng Google, pemerintah Israel berusaha membangun citra bahwa tuduhan mengenai krisis pangan di Gaza adalah berlebihan atau bahkan tidak benar. Strategi ini mencerminkan pergeseran diplomasi modern ke arah propaganda digital.
Google dalam Sorotan
Bagi Google, menerima dana sebesar itu tentu sebuah peluang bisnis besar. Namun, langkah tersebut bisa menimbulkan pertanyaan serius: apakah perusahaan teknologi global boleh ikut campur dalam konflik kemanusiaan? Jika benar Google terlibat dalam “mengatur” narasi yang menyangkut nyawa jutaan orang, maka netralitas teknologi menjadi isu besar yang tak bisa diabaikan.
Di satu sisi, Google berfungsi sebagai mesin pencari netral. Namun di sisi lain, kasus ini menunjukkan potensi raksasa teknologi menjadi alat propaganda politik, bukan sekadar platform informasi.
Gaza: Krisis yang Nyata
Terlepas dari perang narasi, realitas di Gaza berbicara lain. Laporan dari berbagai lembaga kemanusiaan menyebutkan bahwa ribuan warga sipil, termasuk anak-anak, mengalami kelaparan akut akibat blokade dan minimnya pasokan bantuan. Foto dan video yang beredar menunjukkan kondisi mengenaskan di lapangan, kontras dengan klaim yang ingin dibangun Israel.
Dengan membayar Google, Israel memang bisa memengaruhi hasil pencarian di internet. Tetapi apakah langkah itu bisa menghapus fakta di lapangan? Dunia internasional sepertinya tidak begitu mudah terpengaruh, terutama dengan hadirnya ribuan relawan, wartawan independen, dan laporan PBB yang terus mengalir.
GOOGLE Dibeli Perdana Menteri Netanyahu dan Kritik Internasional
Banyak pihak menilai tindakan Netanyahu sebagai upaya menutupi krisis kemanusiaan. Langkah ini justru bisa memperburuk citra Israel di mata dunia, karena publik global semakin sadar bahwa ada upaya sistematis untuk “mengatur informasi”.
Selain itu, kerja sama semacam ini membuka perdebatan baru tentang etika perusahaan teknologi. Apakah perusahaan sebesar Google seharusnya menolak kontrak yang berhubungan dengan manipulasi isu kemanusiaan?
Penutup: Pertarungan yang Lebih Besar
Kasus Netanyahu–Google ini bukan hanya tentang Gaza atau Israel. Ini adalah cermin dari dunia modern di mana perang informasi sama pentingnya dengan perang fisik. Di era digital, siapa yang menguasai narasi, bisa menguasai persepsi publik global.
Namun pada akhirnya, opini dunia tidak hanya dibentuk oleh algoritma mesin pencari, melainkan juga oleh fakta di lapangan. Dan selama penderitaan warga Gaza terus terjadi, tak ada strategi digital sebesar apa pun yang bisa benar-benar menyembunyikan kebenaran.


