Kursi Yang Diperebutkan
“Kursi yang Diperebutkan”
Sore itu, Ahmad duduk di serambi sebuah madrasah kecil milik Muhammadiyah. Bangunannya sederhana, cat dindingnya mulai mengelupas, dan genteng sering bocor kalau hujan deras. Bendahara madrasah baru saja mengeluh, “Kas untuk bayar listrik bulan ini saja belum cukup, apalagi gaji guru yang hanya pas-pasan.”
Ahmad mengangguk. Ia tahu betul bagaimana beratnya mengelola amal usaha Muhammadiyah (AUM) yang kecil dan miskin. Semua serba terbatas, kadang harus patungan agar kegiatan tetap berjalan.
Datang seorang tetangga, menatap prihatin pada gedung reyot itu. “Katanya pimpinan Muhammadiyah nggak digaji, ya?”
“Betul,” jawab Ahmad. “Tidak ada honor bulanan seperti pegawai.”
Tetangga mengernyit. “Ah, masa? Kalau benar nggak digaji, kenapa banyak orang berebut jadi pimpinan? Padahal di bawah ini saja, sekolah dan madrasah miskin, guru serba kekurangan.”
Ahmad tersenyum getir. “Sebagian orang memang belum percaya. Mereka pikir pasti ada sesuatu yang besar di balik kursi itu. Dan kenyataannya, meski tanpa gaji, ada fasilitas yang bikin ngiler. Undangan ke luar negeri, akses bertemu pejabat, jejaring luas yang membuka peluang. Jangan lupa, sebagian pimpinan juga sudah kaya secara pribadi—jadi jabatan itu jadi semacam panggung kehormatan.”
Angin sore berhembus, membawa Ahmad kembali pada kenangan Muktamar. Spanduk dukungan dipasang di mana-mana, lobi-lobi berjalan di sudut ruangan, wajah-wajah penuh harap menanti hasil pemilihan. Begitu juga di Musywil, orang rela menempuh perjalanan jauh, bahkan mengeluarkan biaya besar demi satu kursi pimpinan.
Tetangga terdiam, lalu memandang papan nama madrasah yang mulai pudar. “Kalau begitu, berat juga ya, kalau amanah diperebutkan begitu rupa.”
Ahmad menghela napas panjang. “Ya, begitulah. Kursi itu seharusnya untuk mengabdi, bukan sekadar dicari. Semoga siapa pun yang duduk di sana bisa tetap ingat, bahwa yang utama adalah bagaimana Muhammadiyah ini tetap bisa menolong mereka yang di bawah—yang masih berjuang dengan segala keterbatasan.”








